Anggaran Perpusnas 2026 Dipangkas Hampir 50 Persen, Literasi Digital Jadi Alternatif Perluas Akses Bacaan Menuju Indonesia Emas
JAKARTA, mediapendidikan.id – Pemangkasan anggaran Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) pada 2026 menjadi tantangan tersendiri bagi pengembangan budaya literasi di Tanah Air. Di tengah kebutuhan memperluas akses pengetahuan bagi masyarakat, kebijakan efisiensi anggaran mendorong perlunya strategi baru, salah satunya melalui penguatan literasi digital.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam bahan informasi terkait kebijakan anggaran tersebut, alokasi anggaran Perpusnas 2026 turun dari Rp721 miliar menjadi Rp377,9 miliar. Penurunan hampir 50 persen ini dikhawatirkan berdampak terhadap keberlanjutan sejumlah program peningkatan literasi, terutama yang menyasar masyarakat di daerah.
Salah satu program yang terdampak adalah bantuan 1.000 buku untuk setiap titik sasaran atau lokus, termasuk Taman Bacaan Masyarakat (TBM), perpustakaan desa, puskesmas, serta berbagai fasilitas layanan publik lainnya. Program tersebut disebut tidak dapat dilaksanakan pada 2026 akibat keterbatasan anggaran.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerataan akses bacaan, khususnya bagi anak-anak yang tinggal di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Keterbatasan koleksi buku dan kendala distribusi berpotensi memperlebar kesenjangan akses informasi antara masyarakat perkotaan dan daerah terpencil.
Padahal, literasi merupakan fondasi penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Kemampuan membaca, memahami, memilah, dan mengolah informasi menjadi bekal utama bagi generasi muda untuk menghadapi perkembangan teknologi, menciptakan inovasi, serta meningkatkan daya saing di masa depan.
Di tengah keterbatasan anggaran tersebut, transformasi literasi digital dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperluas jangkauan layanan perpustakaan. Distribusi buku dalam format digital berpotensi mengurangi kebutuhan biaya pencetakan dan pengiriman, sekaligus memungkinkan koleksi bacaan diperbarui dengan lebih fleksibel.
Salah satu platform yang menawarkan pendekatan tersebut adalah Kipin melalui program Kipin Perpus Desa. Platform pendidikan digital ini mengusung teknologi offline-first, yang memungkinkan pengguna mengakses berbagai materi pendidikan tanpa harus terus-menerus terhubung dengan internet.
Pendekatan tersebut dinilai relevan untuk wilayah yang masih menghadapi keterbatasan jaringan internet. Dengan dukungan perangkat dan penyediaan konten secara lokal, akses terhadap bahan bacaan dan pembelajaran digital dapat diperluas hingga ke lingkungan desa.
Kipin menghadirkan beragam konten pendidikan, antara lain lebih dari 5.000 buku pelajaran sesuai kurikulum, 2.000 video pembelajaran, ribuan latihan soal mandiri, 500 komik literasi pendidikan original Kipin, serta berbagai konten pendidikan anak, termasuk buku bacaan berjenjang.
Ketersediaan konten tersebut berpotensi mendukung pengembangan perpustakaan desa dan taman bacaan masyarakat sebagai pusat pembelajaran berbasis teknologi. Selain melengkapi koleksi buku fisik, platform digital juga dapat menjadi sarana bagi anak-anak untuk membangun kebiasaan membaca dan belajar secara mandiri.
Meski demikian, pemanfaatan literasi digital tetap perlu didukung ketersediaan perangkat, listrik, pendampingan pengguna, serta pemilihan konten yang sesuai dengan usia dan kebutuhan pembelajaran. Dengan demikian, teknologi dapat menjadi pelengkap layanan perpustakaan, bukan sekadar pengganti koleksi buku konvensional.
Pemangkasan anggaran Perpusnas menjadi momentum untuk mengevaluasi strategi pemerataan literasi nasional. Kolaborasi antara pemerintah, pemerintah daerah, komunitas literasi, lembaga pendidikan, dan penyedia teknologi pendidikan diperlukan agar keterbatasan fiskal tidak menghambat akses masyarakat terhadap pengetahuan.
Menuju Indonesia Emas 2045, pembangunan sumber daya manusia tidak hanya membutuhkan infrastruktur fisik, tetapi juga infrastruktur intelektual yang kuat. Penguatan literasi digital, termasuk melalui inovasi seperti Kipin Perpus Desa, dapat menjadi salah satu langkah untuk menjaga keberlanjutan akses pendidikan dan pengetahuan bagi seluruh anak Indonesia. (Fit)

Posting Komentar